Jangan Jadi
Guru…!
Namaku
Bassam. Aku adalah raja dunia. Istanaku sungguh indah dan tak ada duanya.
Atapnya luas, seluas langit. Pagarnya kokoh, sekokoh palang kerata api.
Temboknya berwarna coklat, secoklat kardus di sudut toko. Rumahku berdiri megah,
semegah jembatan layang di atasnya.
Bunyi
klakson truk pengangkut semen memaksaku membuka kelopak mata. Aku melihat ibu
masih tertidur, tergambar jelas raut wajah yang lelah setelah semalaman dia
bekerja. Seperti kebanyakan perempuan miskin yang tak punya pendidikan tinggi,
ibuku bekerja menjual diri setiap malam.
“Mau
bagaimana lagi. Untuk wanita seumur ibu, tak akan ada lagi yang mau menerima
kerja, apalagi ibu tak punya keahlian apa-apa. Keahlian ibu cuma satu, ya
menjual diri ini.” Selalu saja begitu bila aku meminta ibu berhenti bekerja.
Dengan
langkah terseret, aku keluar dari rumahku. Cahaya matahari pun masih samar
terlihat, saat aku berjalan menjauh dari rumahku. Langkah kecilku seperti sudah
hapal jalan menuju ke pos Mang Dami. Pos Mang Dami adalah tempat memulai
hariku. Setiap pagi, aku akan mengantri seperti anak-anak jalanan lainnya. Kami
mengantri untuk mengambil koran-koran yang nantinya harus kami sebar.
Rupanya
aku terlalu pagi sampai di sana. Mang Dami masih menyusun halaman-halaman
koran.
“Sam,
pagi kali Kau datang. Tidak nyenyakkah tidurmu itu?” Mang Dami menyapaku dengan
logat Bataknya yang kental.
“Ah,
aku kira ini sudah siang, lihat saja sudah banyak mobil-mobil yang berlalu
lalang di atas kita. Kalau soal tidur, aku rasa akan selalu nyenyak tidurku
kalau aku kenyang.” Aku menjawabnya dengan tertawa.
“Bah,
Kau ini selalu bisa berkata-kata indah.”
“Tapi
aku berkata bukan karena tak ada guna Mang. Aku berbicara hal-hal indah itu
bukan tak lain karena aku ingin menyemangati diriku sendiri. Kalau kita
berangkat kerja dengan hal-hal yang positif, aku yakin hasil yang akan kita
dapatkan bisa lebih banyak.”
“Halah,
hal positif macam mana. Kalau untuk orang tak punya seperti kita, tak perlu
adanya hal positif, tapi koran lalu dijual.” Mang Dami memberikan beberapa
lembar koran.
“Hahaha.
Jangan marahlah, Mang.”
“Tidak
aku tidak marah. Sudah sana, Kau sebarkan koran-koran itu!”
“Ya
sudah, Mang. Aku pergi dulu, ya. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Aku melihat Mang Dami menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setiap
pagi aku harus mengelilingi salah satu kompleks perumahan mewah dengan sepeda buntut pinjaman Mang Dami.
Sudah beberapa bulan, aku bertanggung jawab membagikan koran di lingkungan itu.
Beberapa orang pun sudah aku kenal. Ada Pak Toha dan Pak Sabar yang bertugas
menjaga keamanan kompleks, ada Mang Jaja yang berkeliling menjual
sayur-sayuran, ada Mak Yem yang berjualan nasi pecel di ujung kompleks, dan ada
si cantik Neng Imah yang menjual jamu gendong keliling.
“Kok
pagi, Sam?” Pak Sabar, lelaki berumur setengah abad itu menyapaku.
“Iya,
Pak. Kali aja kalau datang lebih pagi dapat rejeki lebih banyak.” Aku menjawab.
“Aku
kira kau tadi berjualan sambil tidur. Hahaha.” Pak Toha ikut menimpali.
“Pengalaman
Pak Toha ya?”
“Hahahaha.”
Pak Sabar tertawa terbahak-bahak.
“Ah
Kau ini. Jangan keras-keras, nanti Pak RT tau. Hahahaha.”
“Ya
sudah Pak, saya keliling dulu.” Aku pamit dari pos sastpam itu.
Satu
rumah, dua rumah, tiga rumah, empat rumah, lima rumah.... Aku sudah
mengelilingi kompleks dan menghabiskan semua koranku. Aku duduk di bawah pohon
mangga dan mengipas-ipaskan topiku mengundang angin yang berhembus melewatiku.
Di depanku berdiri dengan megahnya sebuah rumah, yang katanya milik pemerintah.
Jika sedang ikut berkumpul dengan para pembatu kompleks di gerobak keliling Mang
Jaja, aku selalu mendengar satu atau dua berita miring dari keluarga yang
menempati rumah ini. Katanya, ini adalah rumah Bapak Bupati. Istrinya cantik
dan anak permpuannya masih sekolah SMP.
Sungguh indah sepertinya keluarga Pak Bupati itu, hanya saja dia jarang berada
di rumah. Dia lebih sering mengunjungi rumah istri simpanannya.
Rumahnya
seperti istana di setiap mimpi-mimpiku. Dari luar, kita bisa melihat pagarnya
tinggi menjulang dan di ujungnya lancip seperti bambu runcing. Pagarnya adalah
pagar otomatis yang sering ada di FTV. Pagarnya membuka dan menutup dikendalikan
dari pos satpam di balik pagar tersebut. Rumah ini memiliki taman yang indah,
lebih dari belasan jenis bunga yang tumbuh di taman tapi mawar merah dan putih
mendominasi. Ditambah lagi ada beberapa pohon mangga yang membuat rumah ini
terlihat teduh. Warna putih di sekeliling tembok menambah kesan megah pada
rumah Pak Bupati.
Jam
sudah menunjukkan pukul 10 pagi, aku memutuskan beranjak dari tempatku. Aku
berjalan pulang dengan menuntun sepedaku. Sudah separuh jalan aku pulang,
mataku berhenti pada sebuah sekolah SMP. Begitu mengasyikkan sepertinya jika
aku bisa bersekolah. Aku pernah bersekolah tetapi hanya sampai SD. Ibuku tidak
sanggup membayar tuntutan SPP yang semakin tinggi.
Aku menyandarkan
sepeda Mang Dami di sebuah pohon samping papan nama sekolah itu. Aku melewati
gerbang seperti seorang maling. Diam-diam dan hati-hati aku melangkahkan kakiku
ke sebuah kelas. Terlihat di atas pintu terdapat tulisan VIIB. Oh
jadi ini kelas 2 SMP.
Aku
melihat 30 anak berseragam sekolah putih-biru yang seumuran denganku. Dari luar
jendela aku bisa melihat seorang guru laki-laki yang cukup berumur menerangkan
beberapa rumus matematika.
“Jadi
anak-anak, untuk mencari volume limas segi lima yaitu dengan mengalikan luas
alas dan tingginya, setelah itu dibagi 3.” Aku terpesona melihat banyak sekali
tulisan-tulisan dan rumus-rumus yang ada di papan tulis.
Dan inilah
rutinitas baruku, setiap pagi setelah aku membagikan koran, aku pergi ke
sekolah SMP itu dan mendengarkan pelajaran. Setiap pergi dari rumah aku tak
lupa membawa buku tulis lusuh yang aku temukan di tumpukan kardus dan sebuah
pensil tumpul. Suatu hari, ibu yang melihat perubahanku, bertanya kepadaku.
“Sam, Kamu ini ngapain sih kok beberapa hari ini
terlihat aneh?”
“Memangnya kenapa, Bu?”
“Akhir-akhir ini Kau selalu pulang terlambat. Apa yang
sedang Kau kerjakan?”
“Menutut ilmu, Bu.”
“Menuntun ilmu apa?”
Aku cuma tersenyum menjawab pertanyaan, ibu.
Seperti hari-hari biasanya, setelah dari perumahan,
aku pergi menuju sekolah dan bersembunyi di balik
jendela kelas memerhatikan pelajaran yang berlangsung. Hari ini adalah pelajaran
bahasa Inggris dari Bu Lukita.
“Good morning, class.”
“Good morning, Mam”
“How are you today?”
“Fine.”
“Good. Ok class, we will continue the last
materials. I will give you some questions, and five of you who can answer will
get a present from me.”
“What present is it, Mam?” Seorang gadis berkepang dua bertanya.
“Oh it’s secret, Sarah. if all of you want
to know, you have to give the right answer first.”
“Ok. first question. I am not a bird but I
have a pair of wing. I am not owl but I like to go out in the night. What am
I?”
Murid-murid diam untuk beberapa detik. Akhirnya ada seorang
murid perempuan berkacamata minus dengan bingkai putih di sekelilingnya
mengacungkan tangan.
“Yes, Anna. What’s your answer?”
“Bat, Mam.”
“Good. Because the first question can be
answered well by Anna, the first present is for Anna.”
Murid yang dipanggil Anna itu maju ke depan dan
menerima hadiah dari Bu Lukita. Setelah Anna duduk kembali ke bangkunya,
permainan pun berlanjut sampai pada pertanyaan terakhir.
“Ok class, this is the last question, think
harder class! I am not fish but I like to play in water. I am not a pigeon but
I have beautiful white wings. Who am I?”
Beberapa detik berlalu, beberapa menit berlalu tapi
belum ada murid yang mencoba. Aku pun ikut berpikir,
mungkin aku tau jawabannya.
“Goose?” Mulutku bergumam di luar perintah otakku.
Dan kelas yang tak bersuara itu membuat gumamanku yang seharusnya itu tak
terdengar malah bersuara sangat keras. Seluruh kelas memerhatikan ku yang
sedang berdiri di balik jendela.
“What?” Bu Lukita ikut menoleh.
“Yes, kid. What did you say?”
“I said Goose, Mam.”
“Come here!”
Aku melangkah menuju kelas dan berhenti di depan
pintu. Beberapa hari ini aku bermimpi untuk berada di kelas ini tetapi entah
mengapa aku merasa ragu untuk masuk melewati pintu ini. Aku seperti kecil
berada di ruangan itu dimana semuanya berseragam rapi sedangkan
aku hanya berpakaian lusuh dan kotor.
“It’s ok, come in! Did you say ‘Goose’,
kid?”
“Yes mam.”
“What‘s your name?”
“May name is Bassam.”
“Who are you and what are you doing there?” Bu Lukita menunjuk tempat aku berdiri tadi.
“I am not student here mam. I am just selling
newspaper every morning for some houses near this school. After I have sold the
newspaper, I go here and watch this class.”
“Wow, you have good english. Ok class, I
think we have new winner, so this is your present. Let’s give him applouse.” Aku menerima hadiah dari Bu Lukita.
Teetttt…..
Bunyi bel tanda kelas berakhir terdengar. Bu Lukita
pun mengakiri kelas dan keluar setelah tersenyum kepadaku.
Aku pun ikut keluar. Aku berjalan melewati meja Anna.
Dia tersenyum kepadaku, senyum yang sangat manis. Aku berjalan melewati pagar
sekolah dan mengambil sepedaku. Aku menuntun sepedaku menjauh. Beberapa saat
kemudian aku mendengar ada suara ban sepeda yang menyusulku. Sampai akhirnya
aku aku melihat Anna menuntun sepeda kuningnya dan menjajari langkahku.
“Hai Bassam. Itu kan nama kamu? Aku Anna.”
“Hai Anna.”
“Kamu tadi sangat hebat. Aku bahkan tidak sejago itu
berbahasa Inggris.”
“Ah kamu bisa saja. Aku lihat kamu sangat menyukai
bahasa Inggris ya?”
“Oh ya, aku sangat menyukai bahasa Inggris. Aku ingin
sekali menjadi seorang penerjemah. Setelah aku lulus SMA nanti, aku akan kuliah
Hubungan Internasional di Oxford.”
“Di Inggris?”
“Ya di Inggris. Memang sih Universitas Harvard adalah universitas nomor satu tapi aku ingin belajar bahasa
Inggris dari tempatnya berasal. Bagaimana denganmu?”
“Apanya yang bagaimana?”
“Apa cita-citamu?”
“Mmmm… Cita-cita ya. Aku masih belum tahu apa
cita-citaku.”
“Wah sayang sekali. Kamu harus cepat-cepat menemukan
cita-citamua, Sam. Karena hidup itu cuma butuh satu hal. Tujuan. Dan tujuan itu
apa yang ingin kamu capai suatu hari nanti setelah kamu berusaha.”
“Aku akan menemukan cita-citaku An. Jika aku sudah
menemukannya, aku akan memberitahumu.”
Anna tersenyum mendengar perkataanku.
“Bassam, sepertinya kita harus berpisah, rumahku di
perumahan ini.”
Aku menoleh dan melihat kompeks perumahan yang setiap
pagi aku datangi.
“Baiklah, sampai jumpa lagi Anna.”
“Sampai jumpa Bassam.”
Aku melihat punggung Anna menjauh sampai tak terlihat
karena dia berbelok.
“Bassam, dari mana Kau?” Pak Toha menyapaku.
“Dari jalan-jalan, Pak.”
“Jalan-jalan dengan nak Anna?”
“Pak Toha mengenal dia?”
“Tentu saja, dia kan rumahnya di ujung kompleks sana.”
“Di ujung kompleks? Bukankah itu rumah Pak Bupati?”
“Ya iya, Sam, Anna itu anak Pak Bupati.”
“Oh begitu toh. Ya sudah, hari sudah bertambah siang
dan panas, aku pulang dulu ya Pak.”
Aku beranjak dari kompleks dan pulang. Di tengah jalan
pulang, dua anak laki-laki mencegat langkahku.
“Hei loper koran, berhenti!”
Aku menghentikan langkahku. Belum sempat menoleh,
mereka memberikan bogem mentah kepadaku.
“Apa yang Kau lakukan!”
“Kau itu benar-benar loper koran yang kurang ajar ya!
Kau ini cuma loper koran tapi gayamu sudah seperti anak orang kaya.” Anak kurus
berwajah tirus berteriak kepadaku.
“Apakau tidak malu, setiap hari Kau mencuri ilmu dari
sekolah kami. Apakah Kau membayar uang SPP seperti kami. Wah aku lupa jangankan
membayar SPP, untuk makan saja susah.”
“Hei loper koran, Anna itu pacarku. Jangan
mendekatinya. Aku tidak suka Kau datang lagi ke sekolah, mengapa Kau tidak
kembali saja ke bawah jembatan dan bermain di kandangmu.” Anak berwajah indo ikut
berteriak kepadaku dan bersiap meninjuku.
“Andhika, Leo, apa yang kalian lakukan!” Terdengar
suara dari belakangku.
“Ada Bu Guru, Dhik. Ayo pergi.”
“Sial. Kali ini Kau selamat, tapi jika aku masih
melihatmu lagi besok di sekolah aku tidak akan mengampunimu.” Dua anak yang
bernama Andhik dan Leo itu lari menjauhiku.
Rasanya berat sekali kepalaku. Sebelum aku pingsan aku
sempat melihat seseorang mendekatiku.
Aku membuka mataku. Rasa pening langsung menyerang
kepalaku.
“Bassam, Kau sudah sadar?” Aku mendengar suara yang
sepertanya baru-baru ini aku kenal.
“Bu Lukita, dimana aku sekarang?”
“Kau sekarang berada di rumahku. Tadi aku lihat
Andhika dan Leo sedang menghajarmu, saat aku datang Kau pingsan.”
Aku melihat sekeliling. Cat temboknya dominan berwarna
putih, perabot rumahnya minimalis, bahkan terkesan sederhana. Seandainya
saja aku tinggal di rumah yang seperti ini, aku pasti….
“Mengapa mereka sampai berbuat begitu, Sam?”
Pertanyaan Bu Lukita membuyarkan lamunanku.
“Ku juga tidak tahu. Mungkin mereka kesal ada seorang
loper koran yang ikut belajar bersama mereka.”
“Wah, berarti mereka sudah keterlaluan. Besok Ibu akan
menegur mereka.”
“Jangan, Bu. Memang saya yang salah.”
“Kenapa kamu merasa begitu.”
“Ya, karena aku memang
tamu yang
tidak diundang. Aku seperti pencuri, yang diam-diam menuntut ilmu tanpa ijin.
Sudah pasti, akulah yang bersalah.”
“Kau tidak bersalah Bassam. Kau hanya haus akan ilmu.
Kau sama seperti murid-murid lainnya, Kau juga berhak untuk berada di sekolah
itu.”
Hening sebentar. Hanya terdengar hembusan nafas Bu Lukita
yang berat dan lelah.
“Pemerintah mewajibkan sekolah 9 tahun Basaam, tetapi
masih banyak anak yang merasa keberatan dengan biaya sekolah.”
“Sudah jangan Kau ributkan hal ini. Janganlah karena
keadaanmu ini Kau merasa sedih. Kau tau arti namamu?”
“Tidak, Bu. Apa artinya?”
“Bassam itu artinya yang selalu tersenyum.” Perkataan
Bu Lukita seperti membangkitkan semangatku lagi.
“Istirahatlah dahulu, setelah Kau rasa badanmu cukup
kuat, kau boleh pulang.”
Beberapa waktu aku beristirahat, aku memutuskan untuk
pulang, ibu pasti khawatir karena aku tak kunjung pulang. Saat sebelum aku
pergi, aku berpamitan kepada Bu Lukita.
“Bu, terimakasih segala pertolongan Ibu.”
“Ah Kau terlalu membesar-besarkan. Apa Kau yakin, Kau
sudah sehat betul?”
“Ya, Bu. Aku yakin, apalagi ini sudah malam.”
Bu Lukita mengantarkanku sampai di pagar rumahnya.
“Bu, aku punya cita-cita dan
aku ingin Ibu yang pertama kali mendengarnya.”
“Apa itu?”
“Aku ingin menjadi seorang guru.”
Bu Lukita berhenti melangkah. Dia menoleh kepadaku dan
menatapku dalam-dalam. Dia mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkanku.
“Bassam, jangan jadi guru….”
***
Namaku Lukita. Aku adalah seorang guru di salah satu
Sekolah Menengah Pertama yang terbaik. Aku mengajar mata pelajaran bahasa
Inggris. Dulu aku mengira menjadi seorang guru itu mudah sekali untuk
menjalaninya tapi itu cuma perkiraan. Terkadang apa yang kita lihat tidak sama
dengan kenyataan yang ada.
Setiap orang mempunyai cerita sendiri. Ceritaku
berawal dari 11 tahun yang lalu. Cerita yang berawal saat aku belum mengenal
perjuangan, sebelum aku mampu untuk melawan semua yang mengekangku, sebelum aku
mampu untuk menentukan jalan hidupku.
Satu…
Dua…
Tiga…
“Lukita, apa yang Kau lakukan?” Pak Eko mengejutkanku.
“Ah tidak, Pak. Aku tidak melakukan apapun. Aku cuma….
Mmmm.” Aku gelagapan menjawab pertanyaan dosen Filsafatku.
“Ah sudahlah. Tugas minggu depan Kau saja yang mempresentasikannya. Mengerti?”
“Iya, Pak.” Aku menjawab perintah Pak Eko dengan
senyuman termanisku.
Satu per satu teman-temanku meninggalkan kelas mengekor
kepergian dosenku. Hanya aku dan empat
temanku yang tinggal. Kami sedang mengerjakan tugas kelompok kami yang
sebenarnya sudah dua bulan yang lalu diberikan.
“He guys, I think I find place that we have
looked for.” Aku memulai diskusi.
“Ndek endi Luk?” Gita menimpali.
“Ndek nisor e jembatan layang iku loh. Ndek
kunu lak akeh arek-arek gak duwe. Yok opo lek kene observe ndek kunu?” Aku menjawab.
“Ijinnya kepriben?” Puput ikut
bertanya.
“Haiyaa, gampang lah kalau soal ijin. Papi pasti
bisa usahain buat kita orang.” Riska menimpali.
“Teman, teman. Indonesian please! Gua gak bisa
ngerti omongan loe loe pada. Pengertian dikit napa.” Miranda protes karena kita
mulai berbicara dengan bahasa daerah kita.
“Yeee, lu orang aja yang telmi. Lu temenan ma
kita orang udah berapa tahun sih kok gak nyambung-nyambung.” Riska menjawab.
“Udah udah jangan pada ribut. Pagimane kalo
nanti sore kita berangkat ke tempat yang katanya Lukita itu.”
“Oke deh sip.” Kami serempak menjawab.
“Bentar deh. Aku mau tanya sesuatu.”
“Opo maneng, Luk?” Gita bertanya.
“Tadi tugas dari Pak Eko apa ya?”
Serempak mereka melempar bulpoinnya kepadaku.
“Mangkanya kalau dosen lagi ngajar, dengerin!”
Setelah sepakat, aku dan teman-teman pergi ke tempat
anak-anak jalanan di bawah jembatan layang. Di sanalah aku melihat kehidupan
yang sama sekali berbeda dari kehidupanku selama ini. Aku melihat banyak sekali
anak-anak di bawah umur yang baru pulang dari berdagang asongan. Aku juga
melihat banyak lansia-lansia yang baru pulang dari mengemis di lampu merah.
Keadaan mereka sungguh memprihatinkan. Bunyi kendaraan yang lalu
lalang dan kereta api yang lewat pasti membuat meraka tak dapat beristirahat.
“Assalamualaikum.” Seseorang menyapa kami.
“Waalaikumsalam.” Kami menjawab hampir bersamaan.
“Ada apa ya mbak? Mbak mau nyari siapa?”
“Eh Ris, katanya loe mau mengurus ijinnya. Tuh sana
maju.”
“Eh iya iya. Bentar bentar, gua jadi bingung ini mau
ngomongnya.”
“Ah kelamaan. Begini mas, kami berlima ini ingin
mengadakan observasi di daerah ini. Apakah masnya ini tau kami harus meminta
ijin kemana?” Aku mulai menyampaikan maksud kedatangan kami.
“Soal ijin itu sebenarnya gampang aja mbak. Di sini
kan gak ada yang namanya bapak RT, atau Pak RW.”
“Oh gitu ya mas.”
“Memangnya mbak mbak ini mau observe apa?”
“Bigini mas, kami dari Sastra Inggris ingin meneliti bagaimanakah perkembangan bahasa di tempat ini.” Entah kenapa aku
mendominasi percakapan ini. Aku seolah-olah ingin membuat orang ini terkesan.
“Aku Dami. Aku adalah salah satu bos di sini, meskipun
hanya bos loper koran.”
“Oh aku Lukita. Dan ini teman-temanku.”
“Hai Dami, Aku Puput.”
“Aku Miranda.”
“Aku Gita.”
“Dan aku Riska.”
“Senang bisa berkenalan dengan kalian. Aku bisa
membantu kalian jika boleh.”
“Wah, kamu baik sekali.”
Tak terasa sudah dua bulan kami melakukan observasi di
tempat penampungan itu. Sudah cukup banyak data yang kami kumpulkan. Observasi
pun telah diselesaikan dan kami pun sudah berpamitan dengan orang-orang yang
membantu kami. Teman-teman menyuruhku
untuk berterimakasih secara khusus pada Dami. Mungkin mereka sadar kalau aku
menyukainya. Meraka sengaja meninggalkanku dan memberiku kesempatan untuk
berbicara dengan Dami.
Sore itu, aku dan Dami berjalan-jalan di sepanjang
jalur kereta api. Cukup jauh ku rasa, sampai aku tak lagi melihat tempat
penampungannya. Sepanjang jalan aku dan Dami hanya diam. Tak satu pun dari kami
ingin memulai percakapan.
“Ehem.” Dami seolah-olah memberiku tanda agar mulai
berbicara.
“Dami, terimakasih ya.”
“Untuk apa?”
“Ya untuk bantuanmu selama ini. Tanpa kamu mungkin aku
dan teman-temanku tidak akan seberhasil ini.”
“Ah Kau ini terlalu membesar-besarkan. Ini semua kan
berkat kerja keras kalian sendiri. Jadi kalau Kau bilang kalau ini berkat aku,
Kau jadi terlihat tidak menghargai kerja kerasmu sendiri.”
“Selain Kau baik hati, Kau juga tidak sombong.”
“Luk, kalau sekali lagi memujiku, kepalaku bisa menjadi lebih besar dari ini.”
Hening. Sepi itu datang lagi. Aku dan Dami seperti tak
mampu berkata-kata lagi.
“Sumatera itu jauh ya dari sini.”
Aku menoleh, bingung mendengar pertanyaan aneh Dami.
“Tentu saja. Memang kenapa?”
“Lusa aku akan pergi ke sana. Aku ingin mencoba
peruntunganku di sana.”
“….” Aku tak tahu harus menjawab apa. Air mataku mulai
mengembang di sudut mataku.
“Aku tak tahu kapan aku akan kembali.”
Aku masih diam.
“Luk, mengapa Kau diam saja. Ayolah bicara. Kau
membuatku merasa bersalah.”
“Mengapa Kau harus merasa bersalah?” Akhirnya aku bisa mengeluarkan suaraku.
Hening. Sekarang Dami yang sepertinya tidak
bisa berkata-kata.
“Karena Aku mencintaimu, Luk. Aku sebenarnya berat
meninggalkanmu.”
“Kalau memang berat, kenapa masih meninggalaknku!”
Hening lagi.
“Aku janji Luk, aku akan kembali. Luk, apakah Kau juga
memiliki perasaan yang sama terhadapku?”
Setelah sekian lama aku hanya menundukkan wajahku, aku
akhirnya berani mengangkatnya.
“Aku akan menjawab pertanyaanmu itu bila Kau sudah
kembali.”
Akhirnya aku dan Dami hanya bisa bergandengan tangan
menanti terbenamnya matahari. Kami seolah ingin berlama-lama
untuk menikmati senja ini, karena besok tidak akan sama lagi.
Sudah berbulan-bulan berlalu, sekarang aku dan teman-temanku
sedang berada di salah satu gedung di Universitas kami. Wisuda kami akhirnya
terlaksana. Aku, Puput, Gita, Miranda, dan Riska adalah beberapa dari jurusanku
yang memperoleh nilai tertinggi. Kelulusan seharusnya menjadi saat yang
berbahagia untukku, saat dimana aku memulai untuk kehidupanku selanjutnya. Tapi
harapan tinggal harapan, kenyataan selalu berbeda dengan apa yang telah
direncanakan.
Seusai dari wisuda, aku dan kedua orang tuaku pun
pulang ke rumah. Dan mimpi burukkku pun dimulai.
“Lukita, karena kamu sudah lulus. Papa minta minggu
depan kamu sudah bekerja di kantor Papa.”
“Maksud Papa apa? Kenapa aku harus bekerja di sana? Aku
tidak mau bekerja di sana.”
“Lalu Kamu mau bekerja dimana? Papa kan sudah tua,
kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan melanjutkan bisnis ini!”
“Aku tidak mau Pa. Suruh saja paman yang melanjutkan.”
“Tidak bisa, kamu harus bekerja di sana.”
“Aku tidak mau bekerja di sana. Aku mau menjadi guru.”
“Guru? Dapat apa kamu jadi guru! Gaji guru itu kecil.
Kalau kamu bekerja di Jawa. Kalau kamu ditunjuk untuk jadi guru di Ambon bagaimana! Hidupmu akan susah.”
“Apa bisa kamu hidup susah. Dari kecil kamu sudah
dimanja oleh kami. Kamu tak akan bisa hidup seperti itu. Kalau kamu jadi guru,
kamu tidak akan bisa beli baju bagus, tas bermerek, dan sepatu milik perancang
terkenal. Kamu akan hidup melarat.” Ibu ikut menyuarakan keberatannya.
“Bukan gaji yang aku cari ibu. Aku cuma tidak akan
nyaman bekerja di kantor.”
“Lalu apa Kau akan nyaman menjadi seorang guru.”
“Kalau kamu bertekad tetap menjadi guru, lebih baik Kau keluar
dari rumah ini!”
Aku terpana dengan ucapan Papa. Aku begitu sedih dan
dan merasa bersalah. Papa tidak akan semarah ini jika hatinya tidak terluka
dalam. Aku pergi dari rumah membawa beberapa bajuku, tapi aku tinggalkan semua
perhiasan dan uang yang diberikan Papa dan Mama. Tanpa menoleh lagi, aku pergi
dari rumahku.
Sepeninggal aku dari rumah, aku mengontrak sebuah
rumah kecil yang murah. Sangat berbeda keadaanku dulu dan
sekarang. Tak ada lagi pembatu yang selalu menyiapkan segala kebutuhanku, tak ada lagi segala fasilitas dari Papa, dan tak ada lagi kasih sayang
dari Mama. Setelah aku melamar ke sana ke mari, aku akhirnya diterima bekerja
sebagai guru honorer di salah satu SMP.
Bertahun-tahun aku bekerja sebagai guru. Setiap hari
aku selalu menemukan hal-hal lucu dari murid-muridku. Sampai suatu hari ada
seorang anak laki-laki yang berpakaian lusuh dan kumuh mengejutkanku. Dia bisa
menjawab pertanyaanku dengan benar, ditambah lagi dia bisa berbicara bahasa
Inggris dengan baik. Namanya Bassam. Dia anak yang pintar dan mempunyai
semangat belajar yang tinggi tetapi nasibnya tidaklah bagus.
Setelah aku pulang mengajar, aku melihat Bassam dikroyok
oleh dua orang muridku. Sungguh malu aku padanya. Andhika dan Leo adalah contoh
ketidakmampuanku mendidik mereka. Aku merasa gagal menjadi seorang guru.
Akhirnya aku membawa Bassam ke rumahku dengan bantuan beberapa orang yang
kebetulan lewat.
Ketika aku melihat Bassam tertidur di sofa rumahku,
aku melihat wajah seorang anak laki-laki yang polos. Wajahnya seperti
menyembunyikan guratan ketabahan. Dia seperti sudah menjalani kehidupan yang
berat. Sekuat apa Kau, Bassam? Aku berkata dalam hati.
Saat pulang, aku kaget ketika Bassam mengatakan bahwa
dia bercita-cita menjadi seorang guru.
Aku hanya bisa menjawab, “Bassam, jangan jadi guru….”
***
Hari-hari sudah berlalu, luka memar di wajah Bassam
sudah hampir sembuh tetapi badannya masih lemas. Hal ini membuat dia tidak
bisa berjualan beberapa hari ini. Malam hari, tepat saat bulan purnama
bersinar, Bassam duduk di depan rumah kardusnya. Dia teringat akan perkataan Bu
Lukita.
“Bassam, jangan jadi guru kalau kamu
penakut. Jangan sekali-kali kamu bermimpi menjadi guru bila kamu takut dengan
tantangan di masa depan. Menjadi guru tak semudah seperti yang Kau lihat. Guru
tak setiap waktu bisa tersenyum seperti saat dia mengajar. Kadang kalau ada
sebuah masalah yang datang, seorang Guru harus memakai topeng saat dia mengajar.
Guru itu tidak boleh mengeluh apalagi di depan muridnya. Guru itu harus menjadi
seseorang yang terlihat tidak mempunyai masalah di kehidupannya. Menjadi
seorang guru itu bukanlah cita-cita yang tinggi, tatapi mampu melahirkan generasi dengan cita-cita setinggi langit. Akan banyak sekali
pengerbonan yang harus Kau berikan ketika Kau menjadi guru. Bassam, kalau kau adalah seorang yang penakut, jangan sekali-kali Kau
bermimpi menjadi seorang guru.”
Bassam tak menyangka sesusah itu menjadi seorang guru.
Bukannya menyerah, dia malah bertekat untuk terus bermimpi. Dan dia bertekat
akan mewujudkan mimpinya itu. Bassam bukan orang yang penakut dan dia tau itu.
Tanpa dia sadari, saat dia sedang melamun, Mang Dami
datang dan menyapanya.
“Hei Bassam, apa pula yang Kau lakukan di luar sini. Tak taukah Kau ini sudah malam. Mengapa Kau tak tidur juga!”
“Eh, Mang Dami. Aku sedang menatap bulan.”
“Menatap atau meratap?”
“Ah Mang Dami ini bisa saja.”
“Punya masalahkah Kau ini? Ceritalah pada aku. Mungkin
aku bisa membantu.”
“Tidak Mang. Aku cuma berpikir tentang mas depanku
saja Mang. Aku bingung harus bagaimana aku mewujudkan cita-citaku.”
“Apalah cita-citamu itu?”
“Guru, Mang.”
“Halah, gitu saja Kau bingung. bagaimana kalau Kau
cari beasiswa. Kau kan pintar. Setiap hari saja bacaan Kau itu koran.”
“Hahahahah. Mang Dami ini bisa saja.”
“He, macam pula dengan luka Kau itu?”
“Sudah tidak apa-apa, Mang. Hanya pusing yang belum
hilang.”
“Memangnya bagaimana Kau ini bisa dikroyok?”
“Ah anak-anak yang mengroyok aku ini cuma iri saja
padaku, Mang. Ya, untung saja ada Bu Guru cantik yang menolongku.”
“Siapa Guru cantik itu? Kau ini bisa saja melihat yang
cantik-cantik.”
Malam pun berlanjut, Mang Dami dan Bassam masih
bersendagurau dan menikmati cahaya bulan purnama.
Sementara itu, di sekolah, bu Lukita melaporkan
kejahatan Andhika dan Leo kepada guru BK dan Kepala Sekolah.
“Kalian ini mencemarkan nama baik sekolah saja. Kalian
ini hanya bisa membuat malu saja.” Bu Chorida, Kepala Sekolah dan atasan bu
Lukita, mulai kehabisan kesabaran pada dua anak didiknya itu.
“Tapi dia cuma loper koran, Bu.” Andhika mencoba
membela dirinya.
“Meskipun dia hanya loper koran, dia ini tetap
manusia. Kalian harus menghormati sesama manusia.” Bu Firdausy juga tidak
tinggal diam saja. Sebagai guru BK, dia merasa gagal mendidik mereka berdua.
“Kenakalan kalian kali ini sudah tidak bisa ditolerir
lagi. Saya akan menskors kalian dan akan Ibu kirimkan surat panggilan kepada orang
tua kalian. Akan Ibu pastikan Bu Intan dan Bu
Nata menerima suratnya.”
“Ah jangan, Bu.” Andhika dan Leo memohon-mohon
keringanan pada kedua guru mereka itu.
Bu Lukita khawatir karena dia tidak melihat lagi
Bassam di sekolah. Dia takut luka anak itu menjadi bertambah parah. Akhirnya dia
memutuskan akan menjenguk Bassam. Tapi masalahnya sekarang, dia
tidak tahu dimana Bassam tinggal.
Setelah pulang dari mengajar, dia keliling mencari
informasi tentang Bassam. Pada akhirnya, pencariannya sampai pada kompleks
perumahan Anna, kompleks perumahan yang biasa didatangi Bassam untuk menjual
koran. Di sana dia mendapatkan informasi tentang Bassam dari Pak Sabar.
“Pak, numpang tanya.”
“Eh iya Neng. Silahkan.” Pak Sabar menjawab.
“Bapak, pernah tau ada seorang anak laki-laki yang
menjual koran?”
“Wah banyak neng tukang korang yang datang ke sini.”
“Namanya Bassam, Pak.”
“Kalau Bassam, kami tau. Kami kenal betul dengan dia.
Dia mah orangnya ramah, pinter, dan sopan lagi.”
“Wah kebetulan sekali, Pak. Bapak tau dimana dia
tinggal?”
“Tau neng. Dia sih pernah bilang, dia tinggal di bawah
jembatan layang di sana neng. Kira-kira kalau dari sini 5 km, Neng.”
“Jembatan layang, Pak?” Bu Lukita seperti terkenang
lagi masa lalunya.
“Iya Neng.”
Setelah mengucapkan terimakasih, dia bergegas menuju rumah
Bassam. Semakin dekat dengan tempat yang dituju. Entah mengapa, terasa berat
dan pedih hatinya. Berulang kali, dia harus menghapus air matanya agar tak
menetes, tapi air matanya kembali mengambang.
Aku tidak datang ke sana untuk mengenang
yang telah lalu, aku hanya ingin datang menjenguk Bassam. Sekali lagi Bu Lukita menghapus air
matanya yang hampir jatuh.
Setelah bertanya ke sana ke mari, akhirnya dia
menemukan ruamah Bassam. Dia melangkah masuk dan mengucapkan salam.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Lho Bu Lukita, mengapa ke mari?”
“Memangnya tidak boleh Ibu datang kemari. Ibu kan mau
menjenguk kamu.”
“Wah Ibu repot-repot saja. Bagaimana Ibu bisa sampai
ke rumahku?”
“Ya Ibu kan bisa bertanya pada orang-orang. Bagaimana
keadaanmu, Bassam?”
“Sudah baikan, Bu. Mungkin besok pagi aku kembali
bekerja.”
“Wah bagus kalau begitu. Ibumu mana?”
“Ibu lagi di warung? Mungkin sebentar lagi dia
kembali. Nah itu dia.”
“Wah ada tamu rupanya. Maaf lho Bu, rumahnya kecil.” Ibu menyapa Bu Lukita.
“Ah tidak apa-apa, Bu. Rumah saya juga tidak besar. Oh
ya, perkenalkan, nama saya Lukita.”
“Oh jadi ini yang namanya Bu Lukita. Bassam menceritakan sering tentang Bu Lukita. Saya sangat berterimakasih atas pertolongan, Ibu. Saya tidak
tau bagaimana nasib anak saya kalau Ibu tidak ada.”
“Iya Bu, sama-sama. Setiap manusia itu kan harus
saling tolong menolong. Oh ya Bu. Selain saya menjenguk Bassam, aku juga ingin menyampaikan suatu niat baik.”
“Apa itu Bu?”
“Saya ingin menyekolahkan Bassam. Jika ibu mengijinkan
tentu saja.”
“Wah tentu saja saya mengijinkan. Saya sangat
bersyukur jika Bassam bisa bersekolah kembali. Terimakasih, Bu.”
“Assalamualaikum. Nih Sam aku bawakan susu coklat
supaya Kau cepat sembuh.”
“Eh, Mang Dami. Wah makasih Mang. Repot saja, Mamang
ini. Oh ya Mang, kenalkan itu adalah Bu guru cantik yang aku ceritakan
kemarin.”
“Luki?”
“Dami?”
Sama seperti beberapa tahun lalu, Lukita dan Dami
berjalan menyusuri rel kereta api saat matahari hampir tenggelam.
“Kapan Kamu pulang dari Sumatera?”
“Sudah lama, Luk. Lima tahun setelah keberangkatanku
aku pulang lagi ke sini. Aku ternyata tak sanggup jika aku berjauhan dengan
seseorang.”
“Siapa?”
“Kamu, Lukita.”
“Hahahaha.”
“Ada apa? Kenapa kamu tertawa?” Dami marah dan merasa
dia tidak dihargai.
“Aku tertawa karena logatmu aneh. Logatmu sudah
berbeda sama sekali. Kau seperti orang Batak saja. Hahaha.”
“Ha, itu tidak lucu Lukita. Awas Kau ya.”
Lukita lari menghindari kemarahan Dami. Senja itu
mereka seperti mengulang masa-masa indah mereka. Sekali lagi di atas rel kereta
api saat matahari terbenam, mereka merajut kembali cinta yang sempat memudar.
Setelah sholat maghrib, Dami mengantar Lukita ke
kontrakannya dengan sepeda buntutnya.
“Dam, aku mencintaimu.” Malam itu pun, Lukita menjawab
pernyataan cinta Dami 11 tahun yang lalu.
***
Upacara Hardiknas tahun 2013 terasa sangat berbeda.
Bukan karena cuacanya yang tak seberapa panas, bukan karena guru-guru terlihat
kompak dengan seragamnya yang sama, melainkan karena ada seorang pemuda gagah
berdiri di barisan guru-guru, pemuda yang dulunya selalu mengintip pelajaran
lewat jendela.
Bassam akhirnya diangkat menjadi guru setelah memenuhi
beberapa persyaratan. Sampai dia menjadi guru pun, dia tetap mengidolakan guru
bahasa Inggrisnya, Bu Lukita. Karena Bu Lukita lah yang selama ini terus
mendorongnya agar menjadi guru, dia yang mengulurkan tangannya saat dia
terjatuh, dia yang selalu siap sedia setiap saat untuk memberikan
semangat. Dan dari Bu Lukita lah, Bassam tidak takut mejadi
guru karena dia selalu teringat kata bu Lukita.
“Jangan jadi guru kalau kamu adalah orang
yang penakut!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar